Dalam waktu dan kesempatan seperti apa

Dalam waktu dan kesempatan seperti apa, aku dan kau menyambut mentari yang mengintip malu di antara kapas awan.
Dalam waktu dan kesempatan seperti apa, aku dan kau mendengar kicauan burung di tepian danau, ditemani ikan-ikan yang kau beri roti.
Dalam waktu dan kesempatan seperti apa, aku dan kau duduk santai di tepian pantai berceritakan mimpi semalam.
Dalam waktu dan kesempatan seperti apa, aku dan kau berdiskusi tentang polemik dunia. ya, duniaku dan duniamu. semestaku dan semestamu.

Dalam waktu dan kesempatan seperti apa, kau menggenggam tanganku dan menegaskan bahwa dunia terlalu indah untuk dimurungi.
Dalam waktu dan kesempatan seperti apa, kau mengabarkan apa-apa yang kau jalani hari ini. Kemarahanmu, kesedihanmu, kebahagiaanmu, bahkan kelucuanmu.
Dalam waktu dan kesempatan seperti apa, kau dengan kumis tipismu dan tas selempang merah mudamu itu, tersenyum di depan pintu rumahku seraya berkata “ayok jalan, senja terlalu indah untuk dilewatkan”.
Dalam waktu dan kesempatan seperti apa, kau mengajakku berkeliling untuk menyelamatkan dunia.

Dalam waktu dan kesempatan seperti apa, aku menerima puluhan pesan singkatmu ketika beberapa jam tak mengabarimu.
Dalam waktu dan kesempatan seperti apa, aku membawakanmu susu dan roti saat kau merasa tak enak badan.
Dalam waktu dan kesempatan seperti apa, aku dimarahi oleh mu perkara aku yang terlalu kurang memperhatikan diri sendiri.
Dalam waktu dan kesempatan seperti apa, aku memberitahmu bahwa aku begitu berharap kita bisa bersama. setidaknya sampai ujung usia.

Dalam waktu dan kesempatan seperti apa, selain dalam mimpi?

Advertisements

Hargailah

Menjenguk teman ketika sakit, itu sebuah anjuran, bukan? entah semenit, dua menit, atau seberapa lamanya. Ketika saya diposisikan sebagai orang yang sakit, tentulah akan sangat senang ketika ada teman-teman datang menjenguk. Terlebih lagi dengan membawakan sesuatu seperti susu, buah, roti ataupun yang lainnya, kan lumayan hehe. Saya juga akan sangat bertetimakasih dan terharu karena mereka menyempatkan waktunya untuk bertemu denganku, memikirkan aku, dan peduli terhadapku, sebagai seseorang yang sakit. Tapi bagaimana ketika ada orang sakit justru tidak mau dikunjungi oleh siapapun? tentu itu perkara lain. Tidak ada pribadi yang memiliki karakter yang sama. Tapi teman,  setidak ingin apapun dirimu dikunjungi orang ketika sakit, hargai mereka yang sudah mengunjungimu. Jangan berikan mereka wajah masam ketika bertemu denganmu. Apalagi tidak mau menemuinya. Padahal mereka yang akan mengunjungimu sudah berada di depan pintu.

Teman, Hargailah orang lain sebagaimana dirimu ingin dihargai orang lain. mendapatkan sosok kawan yang peduli terhadapmu di jaman yang sekarang ini sangatlah sulit. Peduli pun banyak motifnya. Kita tidak benar-benar tahu mana orang yang benar tulus peduli, atau hanya peduli sebagai pencitraan dan keharusan menjenguk sebagai teman. Yang artinya ada sebuah ketidakikhlasan dan keterpaksaan disitu. Apapun motif mereka terhadapmu, harggailah. Biar bagaimanapun mereka telah membuat waktu untuk menjengukmu, diantara padatnya waktu mereka. Dan jangan pernah menutup diri untuk dikunjungi orang lain. Mungkin bisa dianggap kita merepotkan mereka, karena dengan kita yang sakit mereka harus menjenguk kita. Tapi percayalah, tidak akan ada yang sia-sia dan kita tidak benar tahu isi hati setiap manusia. Jadi tetap berbaik sangka, tersenyum, dan mengucap terimakasih.

lagi-lagi sampah

Dewasa ini tidak sedikit kita melihat pemandangan yang tidak mengindahkan. Apalagi kalau bukan sampah. Ya, saat ini sampah berada dimana-mana dari bagian dunia terbesar hingga terkecil. Kurangnya pemahaman cara pengolahan sampah yang baik dan benar membuat hal itu menjadi lumrah. Bagaimana bisa? Coba bayangkan saja, sampah yang dihasilkan di seluruh dunia mencapai 184.000 ton perharinya. Luar biasa bukan? Dan itu tak sebanding dengan pengolahan yang diberikan. Miris!

Oke, mari dikerucutkan.  Kita ambil saja contoh Dusun Ngebrong, Desa Tawangsari, Pujon, Kota Malang.  Di Dusun Ngebrong ini, sangat-sangat jarang dijumpai tempat sampah di depan rumah warga. Bahkan dapat dihitung dengan jari rumah yang memiliki tempat sampah.  Memang, belum ada fasilitas yang memadai dalam pengolahan sampah untuk Dusun Ngebrong ini. Tetapi, ibu-ibu PKK sudah berinisiatif untuk melakukan pengambilan sampah-sampah di rumah warga setiap sebulan dua kali dengan jadwal yang ditentukan. Lantas, dibawa kemanakah sampah-sampah yang telah dikumpulkan? Bank sampah! Itu jawabannya. Di Dusun Ngebrong punya bank sampah? Jelas. Apakah sudah beroperasi dengan baik? Tentu saja belum. Mengapa demikian? Sebenarnya bank sampah yang ada di Dusun Ngebrong saat ini sedang dalam proses pembangunan. Bukan pembangunan yang tunggu jadi, melainkan pembangunan yang terhambat. Apa masalahnya? Dana pastinya!. Jelas saja bank sampah yang sudah dioperasikan kini tidak memiliki pintu, dan sampah-sampah yang telah diambil dan dikumpulkan, langsung dilemparkan saja ke dalam bank sampah. Tanpa pemilahan terlebih dahulu. Asyiknya, kondisi tersebut dimanfaatkan oleh anak-anak dusun untuk diambili sampah-sampah yang masih memiliki nilai jual seperti gelas plastik, kardus, dan lain sebagainya. Coba saja ibu-ibu PKK lebih kreatif dan mau untuk memilah sampah mungkin dapat menambah pemasukan apabila dijual, dan dana yang didapatkan bisa digunakan untuk melanjutkan pembangunann bank sampah. Daaaaaan, satu lagi masalah yang ada di dusun ngebrong mengenai sampah ini, yaitu bagaimana cara mengolah sampah sterofoam dan pempers? Oke itu menjadi PR kita bersama! 😀

Kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang bagaimana memilah dan mengolah sampah dapat berakibat buruk bagi lingkungan sekitar. Udara dapat tercemar karena bau yang dihasilkan. Aliran sungai menjadi terhambat karena tumpukan sampah, tentunya membuat kualitas air menurun, juga sampah plastic yang masih terdapat di pinggiran jalan bahkan ada yang tertimbun di tanah. Hal tersebut dapat teratasi dengan pemberian sosialisasi dan pelatihan terhadap warga sekitar. Serta kejelasan mengenai dana untuk melanjutkan pembangunan bank sampah dan juga pembuat kepengurusan yang lebih terstruktur untuk pengolahan sampah yang lebih baik sehingga masalah sampah dapat diselesaikan, setidaknya dikurangi.

 

 

 

Cukupkan

aku lelah berharap

aku lelah percaya

aku lelah menjaga hati

aku lelah bergantung

sementara kau

kau gemar mengumbar harap

kau pandai bersilat lidah

kau biarkan hatimu berlarian

dan, kau memang sejahat itu

sialan!

kau membuat otakku stuck tak berjalan

dengan rautmu yang meyakinkan

kau luncurkan bualan-bualan memuakkan

Baris Ketiga

Baris ketiga
Ya, di baris ketiga ini aku duduk
Ku dengar lantunan lagu sakit hati si pengamen
Ah, pak, ini masih terlalu pagi untuk kau bersedu sedan
Tersenyumlah, bawalah ragu periang suasana
Tiga lagu berusai
Kepingan lima ratus memenuhi topimu
Belilah makan, dan minum yang banyak
Teruslah bernyanyi
Hibur kami kala menunggu keberangkatan bis Malang-Bojonegoro ini

Baris ketiga
Ya, di baris ketiga ini aku melihat petugas kebersihan sedang mendorong gerobak sampah
Usahlah kau anggap rendah pekerjaanmu itu
Sesungguhnya pak, pekerjaanmu jauh lebih mulia daripada si tikus-tikus putih diatas sana
Justru karena mu lah terminal ini bersih,
Pandangan tak sumpek dengan sampah berserakan
Pak, pahlawan lingkungan, teruslah bekerja dengan keikhlasan
Dengan kegembiraan
Dengan senyum yang terus menyulut

-Terminal Arjosari, pukul 08.20-

sok yang sia-sia

hei!!

ngomong apa kau ini

tak usah kau sok beridealis

kalau masih acuh terhadap orang sekitarmu

tak usah kau sok berpikir futuristik

amanah saja kau lalaikan

kau perangi kawanmu

kau lantangkan suaramu

kau teriakan kemerdekaan

pun hak hak mahasiswa

tapi hatimu haus sanjungan

gila pengakuan

cih,

di mana letak keikhlasanmu?

jiwamu sudah tak waras?

oh,

sia-sia

tak bermakna

bikin capek saja